Anak Buta Warna Dan Pergaulannya Di Sekolah

Dunia anak adalah dunia bermain, tidak ada yang lebih menyenangkan selain ketika masih menjadi anak-anak. Seisi bumi rasanya hanya berisi tawa dan senyuman. Sejumlah mainan kesayangan tersusun rapi di rak lemari. Akhir pekan menjadi waktu yang ditunggu, waktu berlibur bersama orang tua. Pelukan sayang dari orang tua saat kita menangis akibat terjatuh dari sepeda, tentu menjadi kisah yang mungkin masih kita ingat baik di memori.

Mempunyai anak-anak yang sehat dan aktif tentu menjadi harapan semua orang tua, dimanapun. Setiap momen kehidupan yang dilalui bersama anak adalah momen-momen terbaik bagi para orang tua, oleh karena itu dengan selalu memberikan kasih sayang yang tulus dan memberi perhatian kepada anak adalah kewajiban utama para orang tua. Namun bagaimana jadinya, jika ternyata anak kita terlahir dengan kelainan buta warna? apa yang mesti kita lakukan sebagai orang tua? Apakah tidak ada satupun cara untuk sembuh? pertanyaan ini mesti kita jawab, sekarang.

Mindset

Perlu kita yakini bersama, buta warna bukanlah sebuah takdir yang tidak bisa dirubah. Buta warna hanyalah sebuah kondisi. Kondisi dimana seseorang hanya agak berbeda dengan orang lain. Apakah kita harus menyerah ketika mengetahui anak kita menderita buta warna? Tentu saja tidak, karena tidak pernah akan ada tempat bagi kata menyerah dalam kamus hidup ini. Sebagai catatan, menurut penelitian WHO, saat ini ada sekitar 300 juta orang di luar sana yang menyandang buta warna.

Apa yang harus dilakukan?

Beri pemahaman yang benar. Seorang anak yang menderita buta warna, secara psikologis dia berada dalam tekanan, tekanan dari dalam dan dari luar dirinya. Oleh karena itu kita harus bisa meyakinkan anak, bahwa tidak ada yang perlu khawatirkan, tak ada yang salah dan tak ada yang perlu disembuhkan, karena dia tidak sakit, dia hanya berbeda, tak ada masalah dengan kata berbeda, karena hidup ini sejatinya adalah akumulasi beragam perbedaan. Bagi anak yang masih duduk di bangku sekolah, kita sebagai orang tua sebaiknya meminta secara baik-baik kepada pihak sekolah agar anak kita mendapatkan perlakuan khusus terkait kelainannya. Yakinkan juga anak, bahwa tidak perlu menjadi minder dengan keadaannya. Sikap-sikap seperti ini akan menumbuhkan sikap positif dalam diri anak, sehingga anak menjadi lebih siap untuk berinteraksi dengan dunia luar.

Beri alat bantu. Setiap orang, siapapun orangnya, pasti membutuhkan alat bantu. Begitupun anak dengan kondisi buta warna. Maka tugas para orang tua adalah menyediakan alat bantu itu. Apa sajakah, alat bantu ini :

  1. Kacamata buta warna, bagi para orang tua yang mempunyai uang, kini sudah ada kacamata khusus bagi penderita buta warna meskipun harganya masih sangat mahal di kisaran US$600, harga yang rasanya bukan pilihan terbaik bagi kalangan middle-down.
  2. Lensa kontak buta warna. Kini di Indonesia sudah hadir sebuah produk lensa mata yang di design khusus bagi para penderita warna. Sebuah inovasi teknologi yang sangat mulia dalam membantu para penderita buta warna untuk bisa menambah kemampuan mereka dalam meng-identifikasi warna. Sebuah inovasi yang patut diacungi jempol.

Bagaimanapun juga, anak adalah anugerah Tuhan yang paling ditunggu oleh setiap orang tua. Jadi apapun yang terjadi pada anak, kita sebagai orang tua harus bisa mencari solusi terbaik untuk tumbuh kembangnya dari balita hingga beranjak dewasa. Jangan sampai kelainan buta warna yang umumnya adalah karena faktor keturunan, mengganggu aktifitas dan mempengaruhi langkahnya dalam menggapai masa depannya.

Add a Comment

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *