Apa Yang Perlu Dilakukan Ketika Seorang Anak Diketahui Buta Warna

Buta warna pada anak umumnya susah dideteksi  sejak dini jika orang tua kurang memperhatikan tumbuh kembang putra-putrinya dengan seksama. Banyak anak tidak menyadari kelainan yang dialaminya, hingga beranjak remaja. Karena persepsi seorang anak tentang warna adalah apa yang dilihatnya sejak kecil. Ia baru sadar akan kekurangannya, jika mulai masuk tahap sosialisasi dengan lingkungannya, terutama lingkungan pergaulan dan sekolah. Disini seorang anak akan menemukan “pembanding”  persepsi warna yang selama ini diketahuinya.

Kelainan buta warna pada anak sebenarnya bisa diketahui sejak anak memasuki usia batita atau tiga tahun. Dalam usia tersebut, anak mulai belajar tentang persepsi warna dan menyebutkannya secara verbal. Misalnya ia melihat daun yang berwarna hijau, lalu mengucapkan“hijau” kepada ibunya. Dalam usia itu juga, anak mulai senang bermain dengan mainan warna-warni, atau juga mulai suka menggambar dengan pensil warna. Orang tua yang perhatian dengan tumbuh kembang anaknya akan mudah mendeteksi anak yang mengalami kelainan dengan melihat kebiasaan yang ditunjukkanya.   (baca : bagaimana ciri balita yang mengalami buta warna ).

Lalu jika seorang anak terdeteksi mengalami kelainan buta warna, apa yang harus dilakukan orang tuanya ?. Ada banyak hal yang bisa dilakukan orang tua sehingga tidak terjadi kesalahan persepsi tentang kelainan yang dihadapi anaknya. Membawa sang anak ke dokter spesialis mata adalah langkah awal yang tepat. Dengan serangkaian test yang dilakukan oleh dokter, akan diketahui sejauh mana kekurangan yang dialami anak. Langkah selanjutnya adalah bagaimana memberi pengertian kepada anak tentang persepsi warna yang benar. Misalnya memberikan pengertian bahwa rumput berwarna hijau, pisang berwarna kuning, langit berwarna biru, dll. Walaupun ia mungkin tidak melihatnya secara jelas sesuai persepsi orang normal, tetapi ia tahu persepsi warna yang benar, sehingga bisa mengurangi “resiko” saat anak bersosialisasi dengan lingkungannya. Langkah yang tidak kalah penting adalah memberitahukan kepada guru disekolahnya. Dengan guru mengetahui bahwa seorang anak mengalami buta warna, maka ia bisa mengantisipasi bagaimana membantu si anak selama belajar di kelas. Sehingga si anak tetap bisa menerima pendidikan yang sama berkualitasnya dengan yang diterima oleh teman-temannya yang normal.

Satu hal yang tidak bisa dilupakan, adalah menanamkan pengertian yang benar kepada anak sejak dini. Tentu saja dengan cara yang bisa diterima oleh seorang anak sesuai dengan usianya. Kelainan yang dideritanya bukanlah sesuatu yang sangat berat dan untuk “ditakuti”. Karena nyatanya banyak orang yang mengalami hal yang sama dengannya, bisa berhasil bahkan menjadi orang besar dan terkenal di seluruh dunia. Apalagi sekarang telah ditemukan sebuah teknologi untuk mengatasi kelainan tersebut, yaitu dengan menggunakan kaca mata atau lensa kontak khusus  yang disebut Chromagen Lens. Dengan bantuan Chromagen lens, seorang anak, remaja atau orang dewasa penyandang buta warma, bisa tetap menikmati hidup dalam keseharian yang sama kualitasnya dengan orang normal lainnya.

Add a Comment

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *