Buta Warna Dan Penjelasannya

Buta warna secara sederhana diartikan sebagai suatu gejala kekurangan dalam melihat warna.

Sedangkan wikipedia mengartikannya sebagai suatu kelainan yang disebabkan ketidakmampuan sel-sel kerucut mata untuk menangkap suatu spektrum warna tertentu. Penderita kelainan ini umumnya tidak mampu melihat warna merah hijau atau Biru Kuning.

Gejala yang ditunjukkan oleh seorang penderita buta warna adalah ketidakmampuan melihat warna merah hijau, biru kuning atau membedakan warna-warna tersebut serta gradasinya.

Seringkali penderita kelainan ini tidak menyadari keadaan yang dialaminya, kecuali ia telah menjalani sebuah tes penglihatan warna atau umum disebut sebagai tes ishihara.

Jenis – jenis buta warna

Secara garis besar, jenis buta warna dibagi menjadi tiga, yaitu :

  1. Trikromasi, yaitu suatu kondisi dimana satu atau beberapa sel kerucut pada retina mengalami perubahan sensitivitas terhadap warna. Jenis inilah yang banyak ditemukan pada penderita buta warna

Trikromasi bisa dibedakan lagi menjadi tiga klasifikasi, yaitu

  • Protanomasi, yaitu suatu keadaan dimana penderitanya lemah dalam mengenal warna merah
  • Deuteromali, yaitu suatu keadaan dimana penderitanya lemah dalam mengenal warna hijau
  • Trinomali, atau sering disebut juga sebagai low blue, jika penderitanya mengalami kelemahan dalam melihat warna biru
  1. Dikromasi, yaitu suatu keadaan dimana salah satu dari tiga sel kerucut tidak ada. Dikromasi ini bisa dikelompokkan menjadi tiga klasifikasi turunan yaitu :
  •  Protanopia, yaitu sel kerucut warna merah tidak ada. Hal ini menyebabkan penderita tidak peka terhadap warna merah serta perpaduannya
  • Deuteranopia, yaitu sel kerucut warnah hijau tidak ada, sehingga penderita tidak peka terhadap warna hijau serta perpaduannya
  • Tritanopia, yaitu suatu keadaan dimana tidak ditemukan sel kerucut warna biru, sehingga penderitanya tidak peka terhadap warna biru serta perpaduannya.
  1. Monokromasi, yaitu suatu keadaan dimana retina mata mengalami kerusakan total dalam merespon warna. Keadaan ini menyebabkan orang hanya bisa melihat warna hitam, putih atau abu-abu saja. Monokromasi ini disebut juga sebagai buta warna total. Sedangkan jenis Trikromasi dan Dikromasi disebut sebagai buta warna parsial.

Faktor Penyebab Buta Warna

Secara mayoritas, buta warna disebabkan oleh faktor keturunan atau genetis. Orang tua yang menderita kelainan ini maka kemungkinan besar akan menurunkannya kepada anak-anak mereka.

Tetapi selain disebabkan oleh faktor keturunan, masih ada beberapa penyebab lain. Jika dikelompokkan secara umum, ada enam penyebab buta warna yaitu :

  1. Faktor keturunan. Yaitu disebabkan oleh menurunnya sifat dari orang tua kepada anaknya. Jadi kondisi kelainan ini sudah dibawa sejak lahir
  2. Faktor Penyakit. Yaitu disebabkan oleh beberapa penyakit tertentu yang membawa efek atau memicu terjadinya kelainan ini. Penyakit tersebut adalah Neuritis otak, Leukimia, Diabetes, Alzheimer, Glaukoma, Katarak dan anemia sel sabit
  3. Faktor Usia. Yaitu disebabkan oleh proses alami dengan bertambahnya usia pada manusia, dimana kemampuan mata untuk membedakan warna perlahan menjadi berkurang
  4. Faktor efek samping Konsumsi obat. Yaitu disebabkan oleh pemakaian obat-obat tertentu seperti Pheytoin, Sildenafil, Digoxin dan Chloroquine. Jika kelainan buta warna disebabkan oleh pemakaian obat tersebut, maka jika konsumsinya dihentikan, umumnya penglihatan akan kembali menjadi normal
  5. Faktor efek samping bahan kimia tertentu. Yaitu disebabkan terpaparnya mata akibat bahan kima beracun seperti pupuk dan karbon disulfida
  6. Faktor Kecelakaan. Yaitu disebabkan oleh sebuah kecelakaan utamanya terjadinya benturan yang menyebabkan trauma dibagian kepa, sehingga menyebabkan terganggu dan berkurangnya kemampuan mata dalam melihat warna

Diagnosa Buta Warna

Untuk mengetahui seseorang mengalami kelainan buta warna atau tidak, maka perlu diadakan sebuah tes. Adapun tes yang paling umum dilakukan adalah :

  1. Tes Ishihara

Tes ini paling umum digunakan untuk mendetekesi kelainan ini. Tes ishihara adalah sebuah tes dengan melihat beberapa lembar (plate) yang berisi sebuah lingkaran, dimana didalamnya terdapat banyak lingkaran lebih kecil dengan berbagai macam ukuran dan warna.

Lingkaran-lingkaran kecil tersebut disusun sedemikian rupa sehingga mencitrakan sebuah angka atau bangun tertentu. Seseorang dengan penglihatan normal akan dengan mudah melihat angka atau bangun yang ada tersebut. Tetapi bagi penderita buta warna, mereka akan kesulitan melihatnya.

Dimana bisa menemukan tes ishihara ?. Kita bisa menemukannya di klinik mata, dokter mata, atau juga dokter-dokter umum disekitar kita. Atau jik anda ingin mencoba, anda juga bisa menemukan tes ishihara secara online.

Walaupun tes ini paling umum digunakan, tetapi sayangnya hanya bisa digunakan untuk mendiagnosa kelemahan dalam melihat warna hijau merah. Sedangkan kelemahan terhadap warna biru kuning, dibutuhkan sebuah tes yang lain

  1. Tes Penyusunan Warna

Selain tes ishihara, cara mendiagnosa kelainan buta warna juga bisa dilakukan dengan tes penyusunan warna, yaitu dengan menyusun beberapa obyek berwarna dalam susunan gradasi warna yang berbeda. Orang akan diminta untuk menyusun benda sesuai dengan gradasi warna yang dilihatnya.

Apakah buta warna bisa disembuhkan ?

Perlu diketahui dan dipahami dengan benar, bahwa buta warna bukanlah suatu penyakit, melainkan sebuah kelainan fisik pada mata.

Sehingga jika ada yang bertanya apakab buta warna bisa disembuhkan, maka jawabannya secara mayoritas adalah : tidak.

Mengapa dikatakan mayoritas tidak bisa disembuhkan ?. Ya, karena seperti dijelaskan diatas, bahwa mayoritas penyebab kelainan ini adalah karena faktor keturunan yaitu hampir lebih dari 97 %. kIta tahu bahwa semua yang disebabkan karena faktor keturunan, hingga saat ini belum ditemukan cara penyembuhan maupun oengobatannya.

Bagaimana penanganan buta warna yang benar ?

Karena buta warna mayoritas tidak bisa disembuhkan, maka kita harus mengetahui cara penanganan yang benar. Sebuah penanganan yang benar bisa didapat melalui sebuah pemahaman yang benar.

Seperti dijelaskan dalam uraian tersebut diatas, karena mayoritas disebabkan oleh faktor keturunan, maka kelainan buta warna itu sudah dibawa oleh seorang anak sejak ia dilahirkan.

Jadi dengan mengetahui faktor resiko bahwa seorang anak akan mengalami kelainan ini, maka orang tua bisa mempersiapkan penanganan terbaik buat anaknya.

Jika orang tua ingin mengetahui apakah anak-anaknya” membawa” kelainan buta warna, maka ia bisa melakukan sebuah tes buta warna sederhana bagi balita.

Jika ternyata hasilnya cenderung positif, maka sebaiknya orang tua membawa anaknya ke dokter mata untuk mendapatkan  diagnosa yang lebih tepat. Dengan diagnosa yang tepat inilah, orang tua bisa melakukan penanganan yang tepat, sehingga tumbuh kembang si anak tidak terganggu secara berlebihan. Dokter mata dan dokter anak akan memberikan berbagai saran yang akan membantu orang tua dalam mengatasi hal ini.

Lalu bagaimana halnya Jika penderita buta warna sudah beranjak remaja dan dewasa, apakah penanganan yang tepat yang bisa dilakukan ?.

Tentu penanganan yang bisa diambil akan  jauh berbeda dengan saat penderita masih berusia balita atau kanak-kanak. Karena kebutuhhan sosial mereka juga jauh berbeda.

Selain kabar buruk yang harus dihadapi bahwa buta warna tidak bisa disembuhkan dengan obat atau terapi apapun juga, tetapi ada sebuah kabar baik yang sekarang santer terdengar.

Bahwa penderita bisa ditolong dengan menggunakan sebuah alat bantu, yaitu berupa kaca mata khusus dengan lensa yang dirancang sedemikian rupa, sehingga membantu mereka melihat warna dengan lebih jelas, bahkan nyaris seperti yang bisa dilihat oleh orang dengan penglihatan  normal lainnya. Sebut saja alat tersebut adalah kaca mata buta warna.

Sebuah kacamata yang dikembangkan dan diproduksi oleh sebuah perusahaan di Amerika bernama EnChroma. Kaca mata buta warna ini kini telah dijual bebas dibanyak negara termasuk Indonesia.

Khusus untuk Indonesia, penjualannya masih terbatas, karena EnChroma sendiri  belum membuka perwakilan atau agen penjualan langsung di Indonesia.

Penderita buta warna di Indonesia kebanyakan membelinya dengan sistem Online di website enchroma.com atau melalui beberapa agen pembelian online yang bisa anda temukan banyak bermunculan di internet.

Selain kaca mata buta warna, ada juga alat bantu yang berbentuk lensa kontak atau contact lens.

Orang umum menyebutnya dengan Chromagen lens.

Kelebihna lensa kontak chromagen ini adalah sifatnya yang lebih universal, karena hanya memiliki satu bentuk yang sama, yaitu lensa kontak.

Berbeda dengan kaca mata buta warna yang memiliki beberapa desain frame baik untuk pria dan wanita. Tetapi jangan khawatir karena keduanya memiliki fungsi yang sama, yaitu untuk membantu penderita buta warna melihat warna dan gradasinya dengan lebih baik, nyaris seperti apa yang dilihat oleh orang normal.

Tautan dibawah ini menarik untuk disimak berkaitan dengan buta warna :

  1. Buta warna parsial apakah bisa disembuhkan ?
  2. Buta warna parsial lebih banyak terjadi pada laki-laki
  3. Lensa buta warna, solusi tepat untuk buta warna

Jika ada pertanyaan, atau anda ingin berbagi informasi mengenai buta warna, silahkan mengisi form komentar dibawah ini. Semoga bermanfaat.

Add a Comment

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *