Kekhawatiran Berlebihan Penderita Buta Warna

Menjalani kehidupan sehari-hari sebagai penderita buta warna memang bukanlah sesuatu yang mudah. Ketika orang lain bisa menikmati warna dengan lengkap, mereka sering merasa menjadi anak tiri dengan beberapa keterbatasan yang dimilikinya.

Adalah wajar jika penderita buta warna merasa khawatir dengan kelainan yang dideritanya. Terutama jika dikaitkan oleh dua hal. Yaitu pendidikan dan pekerjaan

Memperoleh pendidikan yang layak dan baik adalah hak bagi setiap anak. Sayangnya bagi anak dengan buta warna, kesempatan dan biaya yang cukup, belum menjamin kualitas pendidikan yang diterimanya.

Keterbatasan pada visi warna yang dimilikinya, sedikit banyak membatasi daya serap pendidikan dan pelajaran yang diberikan oleh guru kepadanya.

Bagaimanapun juga secara umum, guru tidak bisa memberikan perhatian yang lebih untuk seorang anak penderita buta warna. Kecuali ada kelas khusus yang didesain hanya untuk anak penderita buta warna.

Kekhawatiran selanjutnya muncul ketika si anak lulus sekolah menengah atas dan akan melanjutkan pendidikan lebih tinggi.

Ada banyak fakultas atau jurusan yang mensyaratkan mahasiswanya bebas buta warna, seperti Fakultas Teknik, MIPA, Kedokteran, dan beberapa jurusan lainnya.

Dengan syarat itu, banyak anak penderita buta warna tidak bisa mewujudkan cita-citanya untuk kuliah di jurusan yang mungkin disukai dan diidamkannya.

Memang ada banyak fakultas atau jurusan lain yang tidak memliki syarat seperti itu seperti misalnya fakultas Ekonomi, Fisip, Hukum dan lain-lain. Tetapi kadang itu bukan yang diinginkan oleh seorang anak.

Kekhawatiran kedua yang umumnya dimiliki oleh penderita buta warna adalah masalah pekerjaan.

Seperti kita ketahui, salah satu syarat dalam melamar pekerjaan adalah harus lolos tes kesehatan. Dimana dalam tes kesehatan tersebut terdapat sebuah tes buta warna didalamnya.

Kekhawatiran tidak lolos dalam tes buta warna akhirnya menjadi kekhawatiran yang membesar sehingga seolah-olah penderita buta warna tidak berhak mendapatan pekerjaan yang layak seperti yang mereka impikan.

Pertanyaan kemudian, layakkah mereka memiliki kekhawatiran yang berlebihan seperti itu ?

Sepintas orang akan maklum dan mengambil kesimpulan untuk membenarkannya.

Tetapi tunggu !

Bukankah ada pepatah dunia tak selebar daun kelor ?

Ya, masih banyak jalan menuju ke Roma, itu kata pepatah lainnya.

Lalu hubungannya dengan penderita buta warna ?

Kekhawatiran-kekhawatiran tersebut diatas, mungkin disebabkan oleh kurangnya informasi dan sempitnya cara berpikir orang dalam menyikapi kelainan buta warna yang dideritanya.

Seandainya mereka tahu dan memiliki informasi yang tepat tentang buta warna serta bagaimana mencari solusinya, tentu cara pandang mereka akan berubah.

Jadi kata kunci yang perlu diperhatikan adalah cara pandang seseorang terhadap sebuah kelainan buta warna.

Yang harus diketahui adalah bahwa Buta warna bukanlah suatu penyakit, ketapi lebih kepada kelainan genetis.

Oleh karena itu buta warna tidak bisa disembuhkan. Jadi tidak perlu mencari obat atau cara apapun untuk mencoba menyembuhkannya.

Tetapi tidak perlu khawatir, karena walaupun anda tidak bisa menyembuhkan kelainan yang anda derita, anda tetap bisa memiliki kesempatan untuk menikmati indahnya warna-warni dunia.

Caranya ?

Tahukah anda bahwa sekarang ini sudah banyak beredar alat bantu yang di desain khusus untuk penderita buta warna ?

Ya, namanya kaca mata buta warna dan lensa kontak buta warna.

Beberapa tautan dibawah ini akan memberi gambaran kepada anda tentang kacamata dan lensa kontak buta warna :

  1. Lensa kontak Chromagen lens untuk penderita buta warna
  2. Kaca mata khusus untuk penderta buta warna, bernama EnChroma
  3. Lensa Chromagen untuk penderita buta warna

Semoga dengan informasi ini, kekhawatiran para penderita buta warna bisa diatasi dengan baik dan semoga bermanfaat.

2 Comments

Add a Comment

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *