Kesalahan Persepsi Orang Tentang Buta Warna

Ketika seseorang dideteksi atau bahkan di diagnose mengalami buta warna, hal pertama yang terlintas dalam pikiran orang adalah : nanti akan kesulitan mencari kerja. Pemikiran ini disebabkan dalam setiap test kesehatan ketika orang melamar pekerjaan, akan dimasukkan test tentang buta warna. Jadi ketika seorang penderita buta warna gagal melewati “hadangan” test buta warna, maka ia akan gagal mendapatkan pekerjaan yang diinginkannya.

Itulah mengapa, ketika seseorang mengalami buta warna, maka ia akan berusaha mencari cara supaya bisa “mengatasi” kelainannya tersebut dengan berbagai macam cara, supaya ketika menghadapi test kesehatan, bisa melewatinya. Point pentingnya adalah bagaimana caranya lolos ketika berhadapan dengan buku test ishihara.

Padahal kalau mau jujur, ada banyak hal lain yang memerlukan perhatian dan tidak kalah pentingnya daripada sekedar lolos test ishihara. Mari kita coba lihat, dari sejak anak-anak. Bagaimana seorang anak buta warna akan mengalami kendala ketika bergaul di masyarakat dan ketika menempuh pendidikan di kelas. Mereka akan mengalami banyak hal yang bagi anak normal tidak merasakannya. Bayangkan jika sedang berada di kelas, dimana gurunya tidak memahami kondisi si anak dengan baik dan memperlakukannya seperti anak normal lainnya. Lalu ketika si anak beranjak dewasa, yang mana menuntut pergaulan dan pendidikan yang lebih luas lagi. Kondisi seperti ini jarang menjadi perhatian karena dianggap “tidak menentukan” masa depan. Berbeda dengan test kesehatan saat melamar pekerjaan, yang dianggap lebih “bermanfaat” untuk hidup seseorang. Padahal diakui atau tidak, justru pada saat anak-anak dan remaja inilah, masa depan seseorang mulai dibangun.

OK-lah lolos test kesehatan saat melamar kerja itu penting dan krusial. Tetapi apakah dengan hanya lolos test yang “sesaat” itu akan menjamin anda bisa bekerja dengan baik kedepannya ?. Apakah anda yakin kedepan anda tak akan mengalami kendala dengan buta warna yang anda derita, walaupun telah lolos test kerja ? (entah dengan cara apa yang anda lakukan sehingga bisa lolos test tersebut ).

Persepsi seperti diatas, oleh banyak ahli disebut sebagai persepsi yang salah dalam menyikapi kelainan buta warna. Hanya focus pada satu hal yang dianggap paling penting dan mengesampingkan hal lain yang dirasa kurang penting (padahal mungkin sebenarnya lebih penting). Kita tidak bisa menyalahkan adanya persepsi tersebut, karena setiap orang memiliki pola pikir yang berbeda-beda. Tetapi alangkah baiknya kalau kita mulai merubah persepsi tersebut dan mencari solusi mengatasi kelainan buta warna secara lebih komprehensif. Sehingga kelainan yang diderita tidak menghambat perkembangan penderita dari sejak anak-anak, remaja hingga dewasa. Tidak hanya sekedar solusi untuk mencari kerja, tetapi juga bagaimana bisa sukses dalam pekerjaannya dan bisa memiliki kualitas hidup yang setara dengan orang normal lainnya.

Add a Comment

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *