Kisah Pendiri Facebook Yang Ternyata Adalah Penderita Buta Warna

Jika Anda adalah pengguna media sosial Facebook, nama Mark Zuckerberg tentu sudah tak asing lagi. Ya, pemuda asal Amerika Serikat inilah sang pendiri media sosial tersebut. Kita semua mengenalnya sebagai salah satu orang terkaya di dunia. Namun, tahukah Anda jika Zuckerberg sebenarnya adalah seorang penderita buta warna? Zuckerberg yang menempuh pendidikan di Universitas Harvard ini mulai mengembangkan Facebook sejak tahun 2004 bersama dengan salah seorang sahabatnya di kampus, Eduardo Saverin. Awalnya, Facebook hanya berupa jaringan yang menghubungkan semua mahasiswa Harvard. Pada perkembangannya, Facebook juga menghubungkan kampus-kampus lain di luar Harvard, hingga sampai sekarang Facebook telah menghubungkan semua orang di berbagai belahan dunia.

Di tahun 2007, majalah terkemuka asal Amerika Serikat, Forbes, memberikan penghargaan kepada Zuckerberg sebagai The Youngest Self-made Billionaire on the Planet atau orang termuda yang memiliki kekayaan dari jerih payah sendiri di dunia. Bayangkan saja, di usia yang baru menginjak sembilan belas tahun, Zuckerberg tercatat telah memiliki penghasilan sebesar USD 1,5 miliar atau setara dengan tiga belas koma lima triliun rupiah. Jumlah yang begitu besar bahkan untuk ukuran orang dewasa. Dari semua kelebihan dan kekayaan yang dimilikinya, tidak banyak yang tahu bahwa pria ini sebenarnya memiliki satu kekurangan. Mark Zuckerberg adalah seorang penderita buta warna.

Kelainan mata yang diderita Zuckerberg inilah yang mendasari mengapa Facebook memiliki warna dasar biru. Sebagai penderita buta warna, Zuckerberg hanya bisa melihat warna biru dan hijau saja dengan jelas. Sementara warna-warna lain yang terang seperti merah, kuning atau oranye cenderung susah untuk dibedakannya. Namun, keterbatasannya tak menghalanginya untuk mendesain sendiri laman Facebook yang didirikannya. Hasilnya pun jauh dari kata mengecewakan. Warna biru yang dominan justru membuat Facebook tampak profesional dan enak dipandang mata. Selain itu, warna biru bagi Zuckerberg juga terlihat dinamis dan mudah diaplikasikan di berbagai tempat. Warna biru juga cenderung banyak disukai oleh pria maupun wanita.

Apa yang membuat Mark Zuckerberg sukses menjadi salah satu orang terkaya di dunia walaupun memiliki keterbasan dalam melihat warna? Ia tak memandang kekurangannya sebagai penghalang untuk maju. Sebaliknya, Zuckerberg menggunakan ketidaksempurnaannya sebagai penyemangat supaya ia bisa menjadi orang yang lebih baik dan berguna lagi. Dan jika Anda kebetulan juga adalah seorang penderita buta warna, kisah hidup Mark Zuckerberg ini semoga dapat menginspirasi Anda untuk tidak menyerah dan terus bersemangat menjalani hidup walau memiliki penyakit yang tidak dapat disembuhkan. Penderita buta warna memang tidak bisa melihat dengan lebih jelas daripada orang yang tidak memiliki buta warna. Tapi hal ini tidak berarti bahwa penderita buta warna tidak bisa sukses

Add a Comment

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *