Mark Twain, Penulis Sukses Asal Amerika Yang Juga Penderita Buta Warna

Jika Anda adalah seorang penggemar novel-novel klasik, nama Mark Twain tentunya sudah tak asing lagi di telinga. Namun, tahukah Anda bahwa pemilik nama asli Samuel Langhorne Clemens ini adalah seorang penderita buta warna? Ya, pria inilah yang menulis kisah-kisah terkenal seperti The Adventures of Huckleberry Finn, The Adventures of Tom Sawyer, The Prince and the Pauper, A Connecticut Yankee in King Arthur’s Court serta satu buku non fiksi berjudul Life on the Mississippi. Lahir di Florida, Missouri, pada 30 November 1835 dan meninggal di Redding, Connecticut pada 21 April 1910 di usia tujuh puluh empat tahun, Twain juga berprofesi sebagai pengajar.

Twain dibesarkan di Hannibal, Missouri, sebuah kota yang terletak di pinggir sungai Mississippi. Sebagai penderita buta warna, Twain tak begitu saja menyerah dengan keadaan. Sejak masih muda, Twain bekerja sebagai juru cetak di sebuah perusahaan dan kadang sebagai penulis pula di surat kabar setempat. Ketika Perang Saudara Amerika pecah, ia memutuskan pindah ke California. Di sanalah ia mulai mengganti namanya menjadi Mark Twain yang memiliki arti dua depa dalamnya. Istilah tersebut biasa digunakan oleh awak kapal saat mengukur dalamnya air sungai. Novel-novel Twain yang terkenal menceritakan tentang anak-anak berusia belasan tahun yang tengah tumbuh. Ia juga menyisipkan cerita mengenai pertentangan antara orang muda dengan orang dewasa. Gaya penulisan Twain sarat akan humor. Namun seiring bertambahnya usia, tulisan-tulisan Twain menjadi kian serius.

Kata mutiara milik Twain yang terkenal adalah bahwa kebaikan merupakan sesuatu yang bisa didengar oleh orang tuli dan dilihat oleh orang buta. Karya-karya Twain diakui sebagai salah satu karya sastra terbaik dalam sejarah sastra Amerika. Ketika ia menulis, ia tak hanya sekedar menyuguhkan serangkaian kata-kata tapi juga kebenaran dalam hidup. Twain membuktikan bahwa memiliki keterbatasan dalam melihat dunia tidak menghalanginya untuk terus berkarya. Sampai akhir hayatnya dan bahkan sampai hari ini, namanya tetap dikenang sebagai penulis paling berpengaruh di negaranya, walau ia adalah seorang penderita buta warna. Twain membuktikan bahwa kekurangannya tak menghambatnya untuk maju,melainkan menjadi pendorongnya supaya kian sukses.

Kisah Mark Twain tentu bisa dijadikan sebagai motivasi dan inspirasi, terutama bila kebetulan Anda juga adalah penderita buta warna. Buta warna memang tidak bisa disembuhkan karena faktor genetis yang menyebabkannya. Kelainan ini juga seringkali menyulitkan seseorang yang hendak melamar pekerjaan akibat harus gagal di tes buta warna.Tes ini mengharuskan pesertanya untuk menyebutkan angka dalam lingkaran berwarna yang pastinya akan sulit dilalui oleh seseorang dengan ketidakmampuan untuk membedakan warna. Namun, dengan kerja keras dan sikap pantang menyerah, penderita buta warna juga tetap bisa berprestasi di bidang lain.

Add a Comment

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *