Tes Buta Warna Pada Anak

Tes buta warna adalah cara yang paling mudah dan umum dilakukan untuk mendeteksi apakah seseorang mengalami gangguan dalam penglihatan warna atau tidak.

Seperti diketahui, hampir 8 % laki-laki diseluruh dunia mengalami buta warna. Ini berarti ada lebih dari 300 juta orang mengalami kelainan yang juga disebut sebagai defisiensi warna ini.

Buta warna sendiri mayoritas disebabkan oleh faktor keturunan. Dimana orang tua yang memiliki kelainan ini, berpeluang besar menurunkannya kepada anak-anak mereka secara genetis.

Untuk itulah jika anda memiliki resiko menurunkan defisiensi warna kepada anak anda, ada baiknya anda melakukan tes buta warna kepada anak-anak anda sejak dini.

Seperti diketahui seorang anak akan mulai mengenal warna dengan jelas dan benar saat ia berusia sekitar tiga tahun. Pada saat itulah biasanya seorang anak (balita) mulai senang menggambar dan mewarnai. Hal ini sejalan dengan perkembangan otak dan motoriknya.

Jika pada usia tersebut si anak tampak tidak tertarik dengan aktifitas menggambar, mewarnai atau kegiatan lain yang berhubungan dengan warna. Atau ia sering salah menyebutkan warna, sehingga salah mengambil pensil warna yang sesuai, maka anda patut curiga kemungkinan anak anda membawa “bakat” kelainan tersebut.

Lalu apakah lantas kita harus melakukan tes buta warna kepadanya dengan menyodorkan lembaran plate tes ishihara ?. Tentu saja tidak se-ekstrim itu.

Sebagai langkah awal, anda mungkin bisa melakukn tes buta warna sederhana pada anak balita anda. Caranya cukup sederhana dan anda bisa mencobanya dengan mudah, seperti berikut ini :

  • Minta anak anda mengambil pensil berwarna hijau, dari sekumpulan pensil warna berwarna hijau, abu-abu, putih dan coklat
  • Minta anak anda mengambil pensil warna merah, dari sekumpulan pensil warna berwarna merah, kuning, hijau dan oranye

Perhatikan pensil warna apa yang diambilnya ? Jika anak anda salah mengambil pensil warna yang anda minta dalam tes pertamanya, jangan lantas mengambil kesimpulan terlebih dahulu.

Buatlah sebuah catatan mengenai hasil tes pertama ini. Mungkin ia belum paham benar dalam mengidentifikasi warna. Coba berikan pemahaman yang benar kepada anak anda tentang warna warna dasar serta turunannya. Mungkin perlu beberapa hari atau beberapa pekan untuk membuatnya memahami jenis warna dengan benar.

Jika dirasa telah cukup, anda bisa mencoba kembali mengulangi tes buta warna sederhana yang sebelumnya telah anda lakukan. Kali ini lihat apa yang dilakukannya. Ulangi beberapa kali dalam jeda waktu satu atau dua hari.

Oh iya satu hal yang perlu di ingat, jangan memaksakan melakukan tes ini jika kondisi si anak sedang tidak memungkinkan. Misalnya sedang kurang sehat, dalam keadaan lapar, mengantuk atau sedang marah. Karena kondisi seperti itu akan berpengaruh pada situasi mental si anak yang membuatnya ogah-ogahan untuk menjalani tes yang anda minta, sehingga berpengaruh pada hasil yang anda dapatkan.

Apakah hasil tes buta warna sederhana tersebut sudah cukup untuk mengetahui apakah si anak mengalami buta warna atau tidak ?. Sesuai dengan namanya “tes sederhana”, tentu memerlukan tambahan informasi lain yang mendukung.

Untuk itu ada beberapa tes lain yang perlu anda lakukan. Sekarang berikan selembar kertas putih polos kepada anak anda serta satu set pensil warna (bisa 12 atau 24 warna). Buatlah contoh gambar sebuah benda yang menarik perhatian bagi anak, misalnya buah apel, jeruk, melon. lalu berikan warna dasar merah, kuning dan hijau sesuai dengan warna natural benda tadi. Selanjutnya minta anak anda untuk meniru gambar yang anda buat lengkap dengan pilihan warnanya.

Disini anda tidak perlu melihat seberapa bagus ia menggambar. Atau seberapa rapi ia memulaskan pensil warna pada gambarnya. Fokuskan perhatian anda pada seberapa tepat ia memilih pensil warna yang digunakannya. Sama seperti tes buta warna sederhana sebelumnya, lakukan tes ini saat kondisi emosi si anak sedang cerah ceria.

Langkah tes buta warna bagi anak yang ketiga dan bisa anda lakukan dengan mudah adalah ajak anak anda berjalan-jalan ke jalan raya, lalu berhentilah di sebuah perempatan jalan dimana terdapat sebuah lampu pengatur lalu lintas.

Ajak anak anda memperhatikan lampu lalu lintas yang ada didepan anda. Lalu minta ia menyebutkan warna lampu yang sedang menyala. Jika anak anda memiliki penglihatan yang normal, maka ia akan dapat menyebutkan warna lampu tersebut. Demikian pula sebaliknya.

Dari tiga langkah tes tadi anda bisa membuat catatan dan kesimpulan sementara. Jika anda menemukan bahwa anak anda bisa menjawab semua tes dengan benar, anda boleh lega bahwa penglihatan anak anda normal.

Tetapi jika sebaliknya, maka saran terbaik bagi anda adalah segera mengajak anak anda ke dokter atau klinik spesialis mata untuk menjalani tes buta warna yang lebih “serius” sesuai standar medis.

Hal ini diperlukan supaya anda bisa mendapatkan kepastian yang bisa dipertanggungjawabkan. Dimana hasilnya bisa anda jadikan bahan acuan dalam mengambil solusi dan penanganan terbaik untuk buah hati anda.

Pertanyaan yang kemudian timbul adalah, bagaimana halnya jika kita baru menyadari dan ingin melakukan tes buta warna kepada anak ketika ia sudah lebih dewasa dari yang dijelaskan diatas.

Katakanlah sudah mulai masuk ke tahap sekolah Dasar. Misalnya kelas satu SD atau sekitar usia 6 – 7 tahun. Pada tahapan usia seperti ini seorang anak tentu telah mengenal angka dan bentuk bangun dasar, sehingga anda bisa melakukan tes menggunakan “aturan” tes ishihara.

Tes ishihara adalah serangkaian tes untuk mendeteksi kemampuan melihat warna yang ditemukan oleh Profesor Shinobu Ishihara, seorang professor di bidang mata yang berasal dari Jepang.

Yaitu berupa beberapa lembar kertas putih dengan gambar sebuah lingkaran besar. Dimana didalam lingkaran besar tersebut terdapat beberapa lingkaran dengan berbagai macam ukuran dan warna. Beberapa lingkaran diberikan warna yang senada dan mencitrakan sebuah angka atau sebuah bangun dasar tertentu seperti lingkaran, segitiga atau segiempat.

Bagi orang yang memiliki penglihatan warna normal, maka akan dengan mudah melihat dan menebak angka atau bangun yang ada ditengah lingkaran besar tersebut. Sebaliknya orang dengan buta warna tidak akan melihat angka atau gambar apapun, karena baginya hanya tampak banyak lingkaran dengan warna yang relative sama.

Dimana bisa menemukan atau menjalani tes ishihara ini ?.  Anda bisa membeli buku tes ishihara di toko buku besar atau di toko yang menjual alat-alat kesehatan. Berapa harganya ? untuk buku ishihara yang asli harganya bisa mencapai diatas dua juta rupiah di salah satu took buku terkenal.

Wow, lumayan mahal ya untuk sekedar melakukan sebuah tes awal. Iya memang standar untuk buku ishihara yang asli memang sekitar itu. Tetapi anda tidak perlu khawatir, karena anda bisa menemukannya tes ishihara secara gratis di internet. Ya, sekarang ini telah banyak website yang menyajikan tes buta warna dengan berbagai macam type, mulai dari yang sederhana hingga yang lengkap. Anda bisa mulai melakukan tes kepada anak anda dari type yang paling mudah terlebih dahulu, baru kemudian meningkat ke tahapan tes ishihara yang lebih lengkap.

Berikut ini adalah beberapa link dimana anda bisa menemukan tes buta warna online yang bisa anda gunakan untuk melakukan tes kepada anak anda. Berikut adalah link-nya :

Jika anda ingin mencoba tes lain yang lebih banyak dan lengkap, anda bisa mencoba mencarinya melalui google. Anda akan menemukan ada ratusan situs yang menawarkan tes terkait dengan berbagai macam type dan versi yang semuanya bisa anda manfaatkan sebaik-baiknya.

Seperti saya singgung dibagian atas. Tes buta warna yang kita lakukan disini adalah sebuah langkah awal untuk mendeteksi kelainan penglihatan warna yang mungkin diderita anak-anak kita, terkait dengan factor resiko penurunan sifat genetis buta warna dari orang tua kepada anaknya.

Langkah paling baik tentunya dengan mengunjungi dokter mata atau klinik mata terdekat untuk mendapatkan diagnose yang lebih tepat dari ahlinya. Inti dari artikel ini adalah bagaimana kita bisa melakukan deteksi sedini mungkin kepada anak-anak kita terhadap kemungkinan buta warna yang bisa saja mereka miliki.

Prinsipnya adalah bahwa deteksi sejak dini akan memberi manfaat lebih baik kepada orang tua, dimana orang tua bisa segera menentukan dan mencari penanganan dan solusi yang terbaik untuk buah hati mereka terhadap kelainan yang dimilikinya.

Beberapa tautan dibawah ini bermanfaat untuk dibaca, terkait dengan buta warna pada anak :

Jika anda memiliki informasi tambahan tentang tema bahasan ini, atau anda ingin bertanya, silahkan mengisi kolom komentar yang tersedia dibawah ini. Semoga bermanfaat.

Add a Comment

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *