Penanganan Buta Warna Tidak Hanya Sebatas Untuk Test Kerja

Ketika seseorang anak didiagnosa mengalami kelainan buta warna, maka kebanyakan orang akan berfikir bahwa kelak ia akan sulit untuk mewujudkan cita-citanya. Akan sulit untuk mencari pekerjaan, karena sudah pasti tidak akan lolos ketika menghadapi test kesehatan, yang didalamnya meliputi test ishihara untuk mendeteksi apakah seseorang mengalami buta warna atau tidak. Diakui atau tidak, hal inilah yang paling banyak terlintas dipikiran orang, terutama orang tua yang anaknya mengalami kelainan tersebut. Atau jika sang anak beranjak remaja, maka ia akan merasakan “ketakutan” yang sama. Jika tidak percaya, silahkan berkunjung ke situs-situs yang mengupas mengenai buta warna, maka anda akan menemukan banyak komentar dari pengunjung situs tersebut yang mengeluhkan masalah diatas.

Padahal jika kita melihat permasalahan ini secara lebih luas, maka ada banyak hal yang harus dipikirkan dan dicari solusinya, supaya penanganan buta warna bisa dilakukan dengan benar dan membawa manfaat sebesar-besarnya bagi penderita. Misalnya ketika penderita masih dalam masa balita sampai usia sekolah. Jika mendapatkan penanganan yang benar, maka ia tidak akan mendapatkan masalah berarti ketika berada dalam kelas dan dalam bergaul dengan teman sebayanya. Dengan penanganan dan pemahaman yang tepat, kita bisa memastikan si anak akan menerima pendidikan yang sama berkualitasnya dengan yang di terima oleh teman-teman normal lainnya. Hal yang sama juga perlu dilakukan ketika si anak masuk dalam jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Ketika si anak telah selesai menempuh pendidikan tinggi dan tiba masanya untuk mulai mandiri dan mencari penghasilan sendiri, mungkin masalah paling serius akan dihadapi. Ya, berkaitan dengan mencari pekerjaan. Tetapi perlu dipahami bahwa bukan berarti orang dengan buta warna sama sekali tidak bisa menggapai cita-citanya karena terhalang dengan adanya test kesehatan dan buta warna. Ada banyak bidang pekerjaan yang tidak terlalu mensyaratkan lolos test tersebut. Misalnya tenaga pendidik, akuntan publik, pengacara, perpajakan, jurnalis dll. Memang penderita buta warna akan sulit lolos test kesehatan untuk menjadi tentara, polisi, pilot, dokter, dll. Tetapi bukan berarti tidak ada kesempatan untuk sukses kan ?. Kalau tidak tertarik dengan pekerjaan diatas, anda bisa mencoba membuka usaha sendiri. Banyak penderita buta warna yang ternyata sukses di dunianya masing-masing. Tidak percaya ? silahkan simak disini : Orang Dengan Buta Warna Yang Sukses. 

Kembali ke permasalahan mengatasi dan menyikapi kelainan buta warna, sebenarnya ada sebuah kabar gembira yang bisa saya sampaikan. Saat ini telah ditemukan sebuah solusi berupa penggunaan kacamata atau lensa kontak khsusus yang didesain untuk membantu penderita supaya bisa melihat warna dan gradasinya dengan jelas seperti orang normal lainnya. Adalah sebuah perusahaan di Amerika yang berkasil mengembangkan dan memproduksi kacamata dan lensa kontak ini, dan telah mendapatkan paten dari FDA. Kabar baiknya lagi, saat ini produk ini telah masuk ke Indonesia, dan banyak penderita buta warna yang tertolong karenanya. Memang kita tidak bisa menggunakan kacamata tersebut untuk mengikuti test buta warna ketika akan melamar pekerjaan. Tetapi dengan menggunakan kacamata atau lensa kontak tersebut, maka kendala melihat warna bisa diatasi dengan baik. Sehingga meningkatkan kualitas hidup penderita buta warna setara dengan penglihatan orang normal. Anak-anak yang masih dalam masa pertumbuhan, bisa mendapatkan “pengalaman dan perlakuan” yang sama dengan rekan-rekannya. Remaja akan lebih percaya diri bergaul dengan teman dan lingkungannya. Demikian pula orang dewasa akan bisa bekerja lebih baik karena mampu melihat warna lebih lengkap dibanding ketika tanpa menggunakannya. Perlu diingat bahwa hidup akan terus berjalan, tidak peduli apakah anda lulus test buta warna atau tidak. Jadi jangan menjadikan test buta warna, terutama saat mencari pekerjaan, sebagai sebuah momok menakutkan bagi penderita buta warna. Pandangan tentang hal tersebut harus dirubah. Penanganan secara komrprehensif harus diambil, demi mendapatkan kualitas hidup yang lebih baik bagi penderita buta warna.

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *