Tes Buta Warna Parsial Menggunakan Buku Ishihara

Mendeteksi suatu gejala kelainan buta warna parsial sejak sedini mungkin tentu akan membawa manfaat lebih positif. Karena dengan mengetahui kondisi gangguan ini sejak awal, maka penanganan yang dilakukan akan lebih mudah dan tepat sasaran. Salah satu cara yang umum digunakan untuk mendeteksi kelainan itu adalah melalui sebuah es buta warna dengan menggunakan buku atau plate tes ishihara.

Apa sih yang dimaksud dengan tes ishihara ? yaitu serangkaian tes dengan cara melihat lembaran atau sering juga disebut plate, berisi sebuah lingkaran besar , dimana didalamnya terdapat banyak lingkaran dengan berbagai macam ukuran dan warna. Beberapa lingkaran diberikan warna berbeda dan mencitrakan sebuah angka atau bangun / bentuk tertentu, umumnya lingkatan, segitiga dan bulatan. Orang yang memiliki penglihatan normal, akan melihat citra angka atau bangun yang ada didalamnya dengan jelas, sehingga ia bisa menebaknya. Berbeda dengan seorang  penderita buta warna, ia akan melihat bahwa lingkaran itu memiliki warna yang nyaris sama, sehingga tidak bisa melihat citra angka atau bangun yang ada di dalamnya. Beberapa pengakuan orang yang tidak lolos dalam tes ini, sering merasa heran, mengapa orang lain (dengan penglihatan normal) bisa melihat citra angka tersebut, sedangkan ia hanya melihat bulatan-bulatan saja.

Tes buta warna dengan metode ini ditemukan oleh seorang profesor / dokter ahli penglihatan / mata dari Jepang, bernama Prof Shinobu Ishihara. Metode tes ini sekarang telah umum dipakai untuk mengetahui apakah sesorang memiliki penglihatan terhadap warna yang normal dan lengkap atau mengalami kendala total maupun sebagian. Kini dalam sebuah tes kesehatan, pengecekan kemampuan sesorang dalam melihat warna adalah salah satu bagian didalamnya.

Tes buta warna dengan cara “membaca” buku ishihara ini juga bisa ditemui saat seseorang akan membuat Surat izin Mengemudi (SIM). Petugas akan menujukan buku ishihara kepada pemohon dan memberikan  pertanyaan untuk dijawab. Di beberapa negara, seoraang penderita defisiensi warna dilarang mengemudikan kendaraan bermotor dan memiliki Surat Izin Mengemudi. Seharusnya demikian pula di Indonesia. Karena dengan kendala yang mereka miliki, penderita akan sulit melihat rambu dan lampu lalu lintas. Ia juga akan kebingungan dalam membaca isyarat lampu kendaraan bermotor lain disekitarnya seperti lampu rem, lampu sign belok kanan/kiri, sehingga rawan menyebabkan kecelakaan.

Ketika seseorang akan melamar pekerjaan, dan masuk kepada tahap test kesehatan, maka ia juga akan menghadapi tes ishihara ini. Apalagi jika anda ingin masuk menjadi anggota TNI dan Polri maka lolos tes buta warna adalah sebuah syarat mutlaknya. Selain TNI dan Polri, ada beberapa profesi lain yang menetapkan syarat yang sama, yaitu Pilot, Dokter, hingga pemadam kebakaran.

4 Comments

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *